15 Etika di Jepang yang Perlu Diketahui Wisatawan Indonesia

Nihon.id — Etika di Jepang menjadi salah satu hal yang perlu dipahami wisatawan Indonesia sebelum berkunjung ke Negeri Sakura. Kebiasaan sederhana seperti mengantre, menjaga volume suara, dan mengikuti aturan tempat wisata dapat membantu perjalanan terasa lebih nyaman sekaligus menghormati masyarakat setempat.

Jepang memiliki kebiasaan sosial yang mungkin berbeda dari kehidupan sehari-hari di Indonesia, terutama dalam penggunaan transportasi umum, tata cara makan, dan kunjungan ke tempat ibadah. Meski tidak semua kebiasaan berlaku secara seragam di setiap daerah, memahami panduan dasarnya dapat membantu wisatawan menghindari kesalahpahaman.

1. Mengantre dengan Tertib

Mengantre merupakan bagian penting dari ketertiban di banyak tempat umum di Jepang, termasuk stasiun, halte, restoran, dan lokasi wisata. Wisatawan sebaiknya mengikuti tanda antrean serta tidak menyerobot orang yang sudah menunggu lebih dahulu.

Di stasiun kereta, perhatikan marka antrean di peron dan beri kesempatan kepada penumpang yang turun sebelum memasuki gerbong. Kebiasaan ini membantu mengurangi kepadatan dan membuat perpindahan penumpang lebih lancar.

2. Menjaga Volume Suara di Transportasi Umum

Kereta dan bus di Jepang umumnya digunakan dengan suasana relatif tenang, sehingga berbicara terlalu keras dapat mengganggu penumpang lain. Atur ponsel dalam mode senyap dan hindari percakapan telepon selama berada di dalam kendaraan.

Jika perlu menjawab panggilan penting, tunggu hingga turun atau gunakan area yang memang diperbolehkan untuk menelepon. Pada kereta jarak jauh, ketentuan penggunaan telepon dapat berbeda menurut area dan operator, sehingga perhatikan petunjuk yang tersedia.

3. Memberi Jalan kepada Penumpang yang Turun

Saat kereta berhenti di stasiun, berdirilah di sisi pintu dan jangan langsung masuk ketika pintu terbuka. Tunggu sampai penumpang keluar agar arus orang tidak saling bertabrakan.

Jika membawa koper besar atau ransel, pastikan barang tidak menghalangi pintu dan lorong. Pada jam sibuk, ransel sebaiknya dibawa di depan tubuh atau ditempatkan sesuai petunjuk operator untuk mengurangi gangguan terhadap penumpang lain.

4. Melepas Sepatu di Tempat yang Meminta

Melepas sepatu merupakan kebiasaan yang umum di rumah Jepang dan berlaku pula di sejumlah penginapan tradisional, restoran, serta bangunan keagamaan. Perhatikan area pintu masuk, rak sepatu, dan tanda petunjuk sebelum melangkah lebih jauh.

15 Etika di Jepang yang Perlu Diketahui Wisatawan Indonesia

Nihon.id — Etika di Jepang menjadi salah satu hal yang perlu dipahami wisatawan Indonesia sebelum berkunjung ke Negeri Sakura. Kebiasaan sederhana seperti mengantre, menjaga volume suara, dan mengikuti aturan tempat wisata dapat membantu perjalanan terasa lebih nyaman sekaligus menghormati masyarakat setempat.

Jepang memiliki kebiasaan sosial yang mungkin berbeda dari kehidupan sehari-hari di Indonesia, terutama dalam penggunaan transportasi umum, tata cara makan, dan kunjungan ke tempat ibadah. Meski tidak semua kebiasaan berlaku secara seragam di setiap daerah, memahami panduan dasarnya dapat membantu wisatawan menghindari kesalahpahaman.

1. Mengantre dengan Tertib

Mengantre merupakan bagian penting dari ketertiban di banyak tempat umum di Jepang, termasuk stasiun, halte, restoran, dan lokasi wisata. Wisatawan sebaiknya mengikuti tanda antrean serta tidak menyerobot orang yang sudah menunggu lebih dahulu.

Di stasiun kereta, perhatikan marka antrean di peron dan beri kesempatan kepada penumpang yang turun sebelum memasuki gerbong. Kebiasaan ini membantu mengurangi kepadatan dan membuat perpindahan penumpang lebih lancar.

2. Menjaga Volume Suara di Transportasi Umum

Kereta dan bus di Jepang umumnya digunakan dengan suasana relatif tenang, sehingga berbicara terlalu keras dapat mengganggu penumpang lain. Atur ponsel dalam mode senyap dan hindari percakapan telepon selama berada di dalam kendaraan.

Jika perlu menjawab panggilan penting, tunggu hingga turun atau gunakan area yang memang diperbolehkan untuk menelepon. Pada kereta jarak jauh, ketentuan penggunaan telepon dapat berbeda menurut area dan operator, sehingga perhatikan petunjuk yang tersedia.

3. Memberi Jalan kepada Penumpang yang Turun

Saat kereta berhenti di stasiun, berdirilah di sisi pintu dan jangan langsung masuk ketika pintu terbuka. Tunggu sampai penumpang keluar agar arus orang tidak saling bertabrakan.

Jika membawa koper besar atau ransel, pastikan barang tidak menghalangi pintu dan lorong. Pada jam sibuk, ransel sebaiknya dibawa di depan tubuh atau ditempatkan sesuai petunjuk operator untuk mengurangi gangguan terhadap penumpang lain.

4. Melepas Sepatu di Tempat yang Meminta

Melepas sepatu merupakan kebiasaan yang umum di rumah Jepang dan berlaku pula di sejumlah penginapan tradisional, restoran, serta bangunan keagamaan. Perhatikan area pintu masuk, rak sepatu, dan tanda petunjuk sebelum melangkah lebih jauh.

BACA JUGA :  Revisi Undang-Undang Kekaisaran Jepang Berlaku, Aturan Suksesi Masih Jadi Sorotan

Jika tersedia sandal khusus untuk bagian dalam ruangan, gunakan sesuai petunjuk tuan rumah atau pengelola. Beberapa tempat juga menyediakan sandal khusus toilet yang tidak seharusnya digunakan kembali di area lain.

5. Memahami Etika Makan di Restoran

Sebelum makan, masyarakat Jepang lazim mengucapkan itadakimasu sebagai ungkapan sebelum menikmati hidangan. Setelah selesai, ucapan gochisousama deshita dapat digunakan untuk menyampaikan penghargaan atas makanan yang disajikan.

Wisatawan tidak harus menguasai seluruh ungkapan bahasa Jepang, tetapi bersikap sopan kepada staf dan pengunjung lain tetap penting. Perhatikan pula aturan restoran mengenai pemesanan, tempat duduk, pembayaran, dan penggunaan meja bersama.

6. Menggunakan Sumpit dengan Sopan

Sumpit digunakan secara luas dalam hidangan Jepang, tetapi ada beberapa kebiasaan yang sebaiknya diperhatikan. Hindari menancapkan sumpit tegak di atas nasi atau memindahkan makanan dari sumpit ke sumpit karena tindakan tersebut berkaitan dengan ritual pemakaman.

Jangan menggunakan sumpit untuk menunjuk orang atau memainkan peralatan makan ketika orang lain sedang makan. Jika belum terbiasa, mintalah sendok atau alat makan lain kepada staf apabila tersedia.

7. Tidak Memberikan Tip secara Sembarangan

Jepang bukan negara dengan budaya pemberian tip yang umum seperti di sejumlah destinasi lain. Di restoran, hotel, dan taksi, wisatawan biasanya cukup membayar sesuai jumlah yang tertera pada tagihan.

Jika ingin mengapresiasi pelayanan, ucapan terima kasih yang tulus merupakan pilihan sederhana. Apabila suatu layanan memiliki aturan khusus atau biaya tambahan, ikuti informasi resmi yang disampaikan penyedia layanan.

8. Membawa Sampah Sendiri

Tempat sampah umum tidak selalu mudah ditemukan di jalan atau kawasan wisata Jepang. Karena itu, wisatawan sebaiknya membawa kantong kecil untuk menyimpan sampah sementara sampai menemukan tempat pembuangan yang sesuai.

Jika menemukan tempat sampah terpilah, ikuti label yang tersedia dan jangan mencampur sampah sembarangan. Hindari meninggalkan kemasan makanan, botol, atau tisu di bangku taman, tepi jalan, dan lokasi wisata.

9. Meminta Izin Sebelum Memotret Orang

Jepang memiliki banyak lokasi menarik untuk fotografi, tetapi keberadaan kamera tidak berarti semua orang atau area boleh difoto tanpa batas. Mintalah izin sebelum mengambil foto seseorang secara dekat, terutama di tempat usaha kecil, acara pribadi, atau lingkungan yang tidak dirancang sebagai lokasi wisata.

BACA JUGA :  Liburan ke Jepang Kini Bisa Bayar Pakai QRIS, Cek Lokasi dan Cara Menggunakannya

Di kuil, wihara, museum, dan tempat bersejarah, periksa tanda larangan fotografi sebelum menggunakan kamera. Jika pengelola melarang foto atau meminta pengunjung berhenti merekam, hormati ketentuan tersebut.

10. Bersikap Hormat di Kuil dan Wihara

Kuil Shinto dan wihara Buddha merupakan tempat ibadah sekaligus lokasi budaya yang dikunjungi banyak wisatawan. Berbicaralah dengan tenang, jangan memasuki area terlarang, dan hindari mengganggu orang yang sedang berdoa.

Tata cara berdoa di kuil Shinto dan wihara Buddha tidak selalu sama, sehingga wisatawan tidak perlu menganggap keduanya memiliki ritual identik. Jika ingin mengikuti ritual tertentu, perhatikan papan petunjuk atau arahan petugas setempat.

11. Mengikuti Aturan Eskalator

Cara berdiri di eskalator dapat berbeda menurut kota dan fasilitas, sehingga wisatawan tidak sebaiknya menganggap satu pola berlaku di seluruh Jepang. Perhatikan tanda di stasiun atau pusat perbelanjaan dan ikuti arahan keselamatan setempat.

Jika tidak yakin, berdirilah dengan stabil sambil memegang pegangan tangan dan hindari menghalangi orang lain secara tidak sengaja. Jangan berhenti mendadak atau menggunakan eskalator dengan cara yang membahayakan diri sendiri maupun penumpang lain.

12. Menghormati Antrean dan Aturan di Toko

Di toko, minimarket, dan tempat makan, perhatikan penanda antrean serta petunjuk pembayaran sebelum mengambil tempat. Hindari membuka kemasan produk yang belum dibeli atau memindahkan barang dagangan tanpa alasan.

Jika ingin mencoba pakaian, menggunakan fasilitas khusus, atau memotret produk, tanyakan kepada staf apabila aturannya tidak jelas. Sikap sopan dan komunikasi sederhana dapat mencegah kesalahpahaman selama berbelanja.

13. Menjaga Sikap di Onsen dan Pemandian Umum

Onsen dan pemandian umum memiliki aturan kebersihan yang perlu diperhatikan pengunjung. Pada banyak fasilitas pemandian tradisional, pengunjung harus membersihkan tubuh terlebih dahulu sebelum masuk ke kolam dan tidak memasukkan handuk ke dalam air.

Ketentuan mengenai pakaian renang, tato, anak-anak, dan penggunaan fasilitas dapat berbeda menurut tempat. Periksa aturan pengelola sebelum datang, khususnya jika memiliki tato atau membutuhkan fasilitas yang sesuai dengan kondisi pribadi.

BACA JUGA :  Mau Liburan ke Jepang? Pemilik E-Paspor Indonesia Perlu Cek Registrasi Bebas Visa

14. Menggunakan Ungkapan Sopan dalam Percakapan

Ungkapan sederhana seperti sumimasen untuk meminta perhatian atau meminta maaf dan arigatou gozaimasu untuk berterima kasih dapat membantu komunikasi sehari-hari. Wisatawan juga dapat menggunakan aplikasi penerjemah ketika kesulitan menjelaskan kebutuhan secara langsung.

Tidak semua orang Jepang dapat berkomunikasi lancar dalam bahasa Inggris, terutama di luar kawasan wisata utama. Berbicara perlahan, menggunakan kalimat sederhana, dan menunjukkan informasi tertulis biasanya lebih membantu daripada meninggikan suara.

15. Mematuhi Aturan Lokal di Setiap Destinasi

Kebiasaan di satu kota atau tempat wisata belum tentu sama dengan daerah lainnya. Peraturan mengenai merokok, makan sambil berjalan, pengambilan foto, dan pembuangan sampah dapat mengikuti ketentuan pemerintah daerah atau pengelola fasilitas.

Sebelum mengunjungi lokasi tertentu, baca informasi resmi dan perhatikan tanda yang dipasang di tempat tersebut. Jika ragu, tanyakan kepada petugas daripada langsung menganggap suatu kebiasaan diperbolehkan.

Tips agar Perjalanan ke Jepang Lebih Nyaman

Wisatawan tidak perlu menghafal setiap kebiasaan sosial Jepang secara sempurna sebelum berangkat. Memperhatikan lingkungan sekitar, membaca petunjuk, dan menunjukkan rasa hormat kepada orang lain merupakan langkah awal yang berguna.

Simpan pula alamat penginapan, informasi transportasi, dan kontak darurat yang diperlukan selama perjalanan. Untuk panduan yang lebih rinci, wisatawan dapat membaca informasi etika perjalanan di situs resmi Japan National Tourism Organization (JNTO) sebelum menentukan rencana kunjungan.

Kesimpulan

Memahami etika di Jepang dapat membantu wisatawan Indonesia menyesuaikan diri dengan kebiasaan setempat selama berlibur. Mulai dari menjaga ketertiban di transportasi umum hingga menghormati tempat ibadah, tindakan sederhana dapat membuat pengalaman perjalanan lebih nyaman bagi pengunjung maupun masyarakat lokal.

Tidak semua aturan berlaku sama di setiap tempat, sehingga petunjuk resmi dari pengelola tetap menjadi acuan utama. Dengan bersikap terbuka, sopan, dan mau belajar, wisatawan dapat menikmati Jepang sekaligus menghargai lingkungan serta budaya yang ditemui.

Sumber: japan.travel, faq.japan-travel.jnto.go.jp, japan-guide.com