Hujan Mulai Redakan Kabut Asap Karhutla di Kalimantan, Ribuan Hektare Lahan Masih Ditangani

Nihon.id — Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan sejak 25 Oktober 2026 mulai membantu mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, kebakaran belum sepenuhnya teratasi sehingga petugas masih perlu melakukan pemadaman dan memastikan bara api tidak kembali menyala.

Laporan yang diterbitkan pada Kamis, 29 Oktober 2026, menyebutkan hujan turun di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Warga menyambut perubahan cuaca tersebut karena hujan membantu memperbaiki kondisi udara setelah berbulan-bulan terdampak asap kebakaran.

Hujan Membantu Mengurangi Kabut Asap

Hujan dapat meningkatkan kelembapan tanah dan vegetasi, menurunkan suhu permukaan, serta membantu mengurangi peluang api menyebar. Ketika hujan turun dengan intensitas dan durasi yang memadai, kondisi tersebut dapat mendukung upaya pemadaman yang dilakukan petugas di lapangan.

Sejumlah wilayah yang dilaporkan mengalami hujan mencakup Palangka Raya, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Barito Utara, dan Pulang Pisau di Kalimantan Tengah. Hujan juga dilaporkan turun di wilayah Kalimantan Selatan serta Desa Air Hitam Besar, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Perubahan cuaca ini membawa harapan bagi warga yang sebelumnya mengalami gangguan akibat kabut asap. Meski demikian, dampak hujan terhadap kualitas udara tidak selalu sama di setiap daerah karena dipengaruhi intensitas hujan, arah angin, dan kondisi kebakaran setempat.

Kebakaran Belum Sepenuhnya Padam

Hujan yang turun tidak otomatis mengakhiri seluruh kebakaran, terutama di lahan gambut. Bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali menimbulkan asap ketika kondisi kembali kering.

Karena itu, tim pemadam masih perlu melakukan penyisiran, pembasahan, dan pemeriksaan lokasi yang sebelumnya terbakar. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan tidak ada bara tersembunyi yang berpotensi memicu kebakaran ulang.

BACA JUGA :  Demo Karhutla Ramai di Jakarta, Mahasiswa Desak Pemerintah Tetapkan Bencana Nasional

Kementerian Kehutanan sebelumnya juga menegaskan bahwa penurunan jumlah titik panas belum berarti seluruh kebakaran selesai ditangani. Indikasi yang terdeteksi satelit tetap perlu diperiksa langsung di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Operasi Modifikasi Cuaca Mendukung Penanganan

Hujan Mulai Redakan Kabut Asap Karhutla di Kalimantan, Ribuan Hektare Lahan Masih Ditangani

Nihon.id — Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan sejak 25 Oktober 2026 mulai membantu mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, kebakaran belum sepenuhnya teratasi sehingga petugas masih perlu melakukan pemadaman dan memastikan bara api tidak kembali menyala.

Laporan yang diterbitkan pada Kamis, 29 Oktober 2026, menyebutkan hujan turun di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Warga menyambut perubahan cuaca tersebut karena hujan membantu memperbaiki kondisi udara setelah berbulan-bulan terdampak asap kebakaran.

Hujan Membantu Mengurangi Kabut Asap

Hujan dapat meningkatkan kelembapan tanah dan vegetasi, menurunkan suhu permukaan, serta membantu mengurangi peluang api menyebar. Ketika hujan turun dengan intensitas dan durasi yang memadai, kondisi tersebut dapat mendukung upaya pemadaman yang dilakukan petugas di lapangan.

Sejumlah wilayah yang dilaporkan mengalami hujan mencakup Palangka Raya, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Barito Utara, dan Pulang Pisau di Kalimantan Tengah. Hujan juga dilaporkan turun di wilayah Kalimantan Selatan serta Desa Air Hitam Besar, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Perubahan cuaca ini membawa harapan bagi warga yang sebelumnya mengalami gangguan akibat kabut asap. Meski demikian, dampak hujan terhadap kualitas udara tidak selalu sama di setiap daerah karena dipengaruhi intensitas hujan, arah angin, dan kondisi kebakaran setempat.

Kebakaran Belum Sepenuhnya Padam

Hujan yang turun tidak otomatis mengakhiri seluruh kebakaran, terutama di lahan gambut. Bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali menimbulkan asap ketika kondisi kembali kering.

Karena itu, tim pemadam masih perlu melakukan penyisiran, pembasahan, dan pemeriksaan lokasi yang sebelumnya terbakar. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan tidak ada bara tersembunyi yang berpotensi memicu kebakaran ulang.

BACA JUGA :  Kisah Haru Dodo Selamatkan Bayi Surili dari Kebakaran Gunung Ciremai

Kementerian Kehutanan sebelumnya juga menegaskan bahwa penurunan jumlah titik panas belum berarti seluruh kebakaran selesai ditangani. Indikasi yang terdeteksi satelit tetap perlu diperiksa langsung di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Operasi Modifikasi Cuaca Mendukung Penanganan

Selain mengandalkan hujan alami, pemerintah dan sejumlah instansi menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendukung penanganan karhutla. Operasi ini memanfaatkan kondisi atmosfer dan awan yang tersedia agar peluang terjadinya hujan dapat dioptimalkan di wilayah sasaran.

Pada 28 Oktober 2026, TNI melaporkan penyemaian 9,2 ton garam dan 1,6 ton dry ice dalam operasi di Kalimantan. Pelaksanaannya melibatkan pesawat angkut dan pesawat lain yang dikerahkan untuk mendukung penyemaian bahan ke awan.

Operasi modifikasi cuaca tidak menciptakan awan dari atmosfer yang benar-benar kering. Keberhasilannya bergantung pada ketersediaan awan yang sesuai, kondisi atmosfer, serta waktu dan lokasi pelaksanaan.

Kualitas Udara dan Penerbangan Masih Perlu Dipantau

Kabut asap karhutla dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu aktivitas masyarakat. Di Palangka Raya, hujan pada awal pekan dilaporkan meningkatkan jarak pandang menjadi sekitar 3.000 meter setelah sebelumnya sempat turun hingga 50 meter saat kondisi asap memburuk.

Perbaikan jarak pandang tersebut membantu membuka peluang pemulihan aktivitas penerbangan. Namun, operasional bandara tetap bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang aktual sehingga perubahan jadwal penerbangan masih mungkin terjadi.

Kondisi udara juga belum tentu membaik secara merata meskipun hujan telah turun di beberapa wilayah. Masyarakat perlu mengikuti informasi kualitas udara setempat, khususnya kelompok rentan yang lebih berisiko mengalami gangguan akibat paparan asap.

Hujan Perlu Diikuti Pemadaman dan Pencegahan

Turunnya hujan merupakan perkembangan positif dalam upaya mengendalikan karhutla, tetapi pemantauan tidak boleh dihentikan terlalu cepat. Petugas tetap perlu memastikan titik api padam, mencegah kebakaran baru, dan melakukan pemeriksaan lanjutan di kawasan gambut.

BACA JUGA :  Magang Nasional Batch 3 Dibuka 27 Oktober 2026, Ini Jadwal dan Cara Daftar lewat SIAPkerja

Masyarakat juga diimbau tidak membakar lahan untuk membuka area pertanian atau perkebunan. Pengawasan kawasan rawan, penegakan aturan, dan kesiapsiagaan petugas tetap diperlukan agar kebakaran tidak kembali meluas ketika cuaca mengering.

Hujan memberikan kesempatan bagi lingkungan dan masyarakat untuk pulih dari dampak kabut asap. Keberhasilan penanganan karhutla pada akhirnya bergantung pada kesinambungan pemadaman, kondisi cuaca, dan pencegahan kebakaran berikutnya.

Sumber: RM.id, Media Indonesia, CNA Indonesia, Kementerian Kehutanan.