BI Ungkap Arus Modal Asing Keluar Merambat ke SBN dan SRBI, Ini Dampaknya

Nihon.id — Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa arus modal asing keluar atau capital outflow tidak hanya terjadi di pasar saham Indonesia, tetapi juga merambat ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kondisi tersebut menjadi perhatian otoritas moneter di tengah ketidakpastian pasar setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.

Dalam laporan yang diterbitkan Bisnis.com pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyampaikan bahwa bank sentral memantau arus keluar modal pada berbagai instrumen keuangan. BI menyatakan akan menjaga kecukupan likuiditas rupiah dan menyiapkan langkah stabilisasi apabila tekanan pasar mulai mengganggu pergerakan nilai tukar.

Arus Modal Asing Tidak Hanya Keluar dari Pasar Saham

Pengumuman konsultasi MSCI mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market memicu perhatian pelaku pasar. Perubahan klasifikasi tersebut masih berupa usulan yang dikonsultasikan, bukan keputusan final yang sudah berlaku.

Menurut BI, arus keluar modal setelah pengumuman tersebut juga terlihat pada instrumen SBN pemerintah dan SRBI. Kondisi ini penting dipantau karena pasar saham, obligasi pemerintah, dan instrumen bank sentral merupakan bagian dari pasar keuangan yang dapat dipengaruhi perubahan persepsi risiko investor.

Data yang dikutip Bisnis.com menunjukkan imbal hasil atau yield SBN pemerintah tenor 10 tahun meningkat dari 7,16 persen pada Senin, 19 Oktober 2026, menjadi 7,44 persen pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kenaikan yield berarti investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi tersebut, dan umumnya berkaitan dengan penurunan harga obligasi yang sudah beredar.

BI Siapkan Langkah Menjaga Likuiditas Rupiah

BI menyatakan akan menjaga ketersediaan likuiditas rupiah agar transaksi pasar keuangan tetap berjalan dengan baik. Bank sentral juga berupaya mempertahankan daya tarik SRBI melalui penyesuaian imbal hasil sesuai kondisi pasar.

Selain itu, BI memperluas insentif biaya lindung nilai atau hedging melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Dalam kebijakan yang diumumkan pada Oktober 2026, pengurangan premi DNDF ditingkatkan menjadi 40 persen untuk tenor enam bulan dan 45 persen untuk tenor 12 bulan, sebagai bagian dari upaya mendukung arus modal masuk dan stabilitas rupiah.

BI Ungkap Arus Modal Asing Keluar Merambat ke SBN dan SRBI, Ini Dampaknya

Nihon.id — Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa arus modal asing keluar atau capital outflow tidak hanya terjadi di pasar saham Indonesia, tetapi juga merambat ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kondisi tersebut menjadi perhatian otoritas moneter di tengah ketidakpastian pasar setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.

Dalam laporan yang diterbitkan Bisnis.com pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyampaikan bahwa bank sentral memantau arus keluar modal pada berbagai instrumen keuangan. BI menyatakan akan menjaga kecukupan likuiditas rupiah dan menyiapkan langkah stabilisasi apabila tekanan pasar mulai mengganggu pergerakan nilai tukar.

Arus Modal Asing Tidak Hanya Keluar dari Pasar Saham

Pengumuman konsultasi MSCI mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market memicu perhatian pelaku pasar. Perubahan klasifikasi tersebut masih berupa usulan yang dikonsultasikan, bukan keputusan final yang sudah berlaku.

Menurut BI, arus keluar modal setelah pengumuman tersebut juga terlihat pada instrumen SBN pemerintah dan SRBI. Kondisi ini penting dipantau karena pasar saham, obligasi pemerintah, dan instrumen bank sentral merupakan bagian dari pasar keuangan yang dapat dipengaruhi perubahan persepsi risiko investor.

Data yang dikutip Bisnis.com menunjukkan imbal hasil atau yield SBN pemerintah tenor 10 tahun meningkat dari 7,16 persen pada Senin, 19 Oktober 2026, menjadi 7,44 persen pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kenaikan yield berarti investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi tersebut, dan umumnya berkaitan dengan penurunan harga obligasi yang sudah beredar.

BI Siapkan Langkah Menjaga Likuiditas Rupiah

BI menyatakan akan menjaga ketersediaan likuiditas rupiah agar transaksi pasar keuangan tetap berjalan dengan baik. Bank sentral juga berupaya mempertahankan daya tarik SRBI melalui penyesuaian imbal hasil sesuai kondisi pasar.

Selain itu, BI memperluas insentif biaya lindung nilai atau hedging melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Dalam kebijakan yang diumumkan pada Oktober 2026, pengurangan premi DNDF ditingkatkan menjadi 40 persen untuk tenor enam bulan dan 45 persen untuk tenor 12 bulan, sebagai bagian dari upaya mendukung arus modal masuk dan stabilitas rupiah.

BI menyatakan dapat memperkuat operasi moneter jika arus modal keluar mulai memicu volatilitas nilai tukar yang melampaui batas toleransi. Meski demikian, bank sentral menilai pergerakan rupiah pada saat laporan tersebut disampaikan masih dapat dikelola.

Rupiah Masih Menjadi Perhatian Pasar

Nilai tukar rupiah tercatat ditutup pada level Rp18.078 per dolar Amerika Serikat pada Jumat, 23 Oktober 2026, menurut laporan Bisnis.com. Pergerakan kurs tetap menjadi indikator penting yang dipantau karena tekanan terhadap rupiah dapat memengaruhi biaya impor, kebutuhan valuta asing perusahaan, dan persepsi investor terhadap aset domestik.

Namun, arus keluar modal asing tidak otomatis berarti seluruh pasar keuangan Indonesia mengalami krisis. Dampak akhirnya bergantung pada besarnya arus dana, kondisi likuiditas, respons kebijakan, serta perkembangan ekonomi global dan domestik.

Apa Artinya bagi Investor?

Bagi investor ritel, perkembangan ini menjadi alasan untuk memperhatikan risiko pasar dan tidak hanya berpatokan pada pergerakan IHSG. Pasar saham dan obligasi dapat bergerak berbeda, sementara perubahan nilai tukar juga dapat memengaruhi aset dengan eksposur terhadap dolar AS.

Investor sebaiknya mengikuti pengumuman resmi BI, perkembangan konsultasi MSCI, dan data pasar sebelum mengambil keputusan. Berita arus modal keluar merupakan informasi penting, tetapi bukan satu-satunya dasar untuk membeli atau menjual instrumen investasi.

Sumber: Bisnis.com, 24 Oktober 2026.