Kisah Haru Dodo Selamatkan Bayi Surili dari Kebakaran Gunung Ciremai

Bayi surili tersebut akhirnya kembali bersama induknya di lokasi yang berjarak sekitar 300 meter dari tempat awal ditemukan. Momen ini menjadi bagian penting dari penyelamatan karena anak satwa itu tidak hanya berhasil dijauhkan dari kebakaran, tetapi juga kembali ke induknya.

Pengembalian kepada induk merupakan langkah yang berarti bagi satwa yang masih sangat muda dan bergantung pada perawatan induknya. Namun, kondisi habitat di sekitar lokasi tetap menjadi perhatian karena kawasan tersebut mengalami kerusakan akibat kebakaran.

Surili dan Pentingnya Menjaga Hutan Gunung Ciremai

Surili Jawa (Presbytis comata) merupakan primata endemik Pulau Jawa yang hidup di kawasan hutan. Keberadaan satwa ini bergantung pada habitat yang menyediakan pepohonan, sumber makanan, serta ruang untuk bergerak dan berlindung.

Kebakaran hutan dapat menghilangkan tempat berlindung dan mengganggu ketersediaan makanan bagi satwa liar. Hewan yang bergerak lambat, anak satwa, atau individu yang terpisah dari kelompoknya dapat menghadapi risiko lebih besar ketika api menyebar.

Gunung Ciremai menjadi habitat bagi beragam satwa liar, sehingga perlindungan kawasan ini tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api. Pemantauan satwa, pemulihan vegetasi, dan pencegahan kebakaran berulang juga diperlukan untuk menjaga fungsi ekosistem.

Peran Masyarakat dalam Melindungi Satwa Liar

Aksi Dodo menunjukkan bahwa masyarakat yang terlibat dalam penjagaan hutan dapat berperan penting dalam menemukan dan membantu satwa yang terancam. Meski demikian, penyelamatan satwa di tengah kebakaran tetap berisiko dan sebaiknya dilakukan dengan koordinasi bersama petugas yang berwenang.

Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka atau terjebak api sebaiknya segera melapor kepada petugas kehutanan atau pengelola kawasan konservasi. Warga tidak dianjurkan memasuki area kebakaran atau menangkap satwa sendiri apabila kondisi tidak aman.

Kisah bayi surili yang kembali kepada induknya menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran hutan tidak hanya terlihat pada pohon yang hangus. Perlindungan habitat dan pencegahan kebakaran sangat penting agar satwa liar tetap memiliki tempat hidup dan kesempatan untuk bertahan di alam.

Sumber: detikJabar, 23 Oktober 2026.

Kisah Haru Dodo Selamatkan Bayi Surili dari Kebakaran Gunung Ciremai

Nihon.id — Seekor bayi surili berhasil diselamatkan dari kebakaran hutan dan lahan di kawasan Puncak Dulang, Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Anak primata endemik Pulau Jawa itu ditemukan dalam kondisi lemah di atas pohon yang mulai terbakar, sebelum akhirnya berhasil dipertemukan kembali dengan induknya.

Dodo Mendengar Rintihan dari Pohon yang Terbakar

Peristiwa penyelamatan terjadi pada Kamis malam, 22 Oktober 2026, sekitar pukul 23.00 WIB. Darsa, yang akrab disapa Dodo, sedang membantu memadamkan api bersama anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) ketika mendengar suara rintihan dari tengah kawasan hutan yang terbakar.

Awalnya, suara tersebut diduga berasal dari burung yang berada di antara pepohonan. Setelah mendekati sumber suara dengan bantuan senter, Dodo menemukan seekor bayi surili berwarna putih yang sendirian di dahan pohon.

Kondisi di sekitar lokasi sangat berbahaya karena pohon tempat satwa itu bertahan sudah terdampak api. Vegetasi dan ranting di sekitarnya juga telah terbakar sehingga proses evakuasi tidak dapat dilakukan secara langsung.

Dodo memperkirakan bayi surili itu baru berusia sekitar satu minggu karena tali pusarnya masih menempel. Saat ditemukan, anak satwa tersebut terlihat lemah dan diduga mengalami gangguan akibat menghirup asap serta terlalu lama tidak menyusu.

Evakuasi Dilakukan di Tengah Bahaya Kebakaran

Untuk menjangkau bayi surili, Dodo harus memastikan bagian pohon dan area sekitarnya dapat ditangani terlebih dahulu. Dahan yang menjadi tempat satwa itu menempel perlu dipotong agar proses penyelamatan bisa dilakukan dengan lebih aman.

Kondisi tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi petugas dan masyarakat ketika berusaha melindungi satwa di tengah kebakaran hutan. Selain menghadapi panas dan asap, mereka juga perlu memperhatikan pohon kering serta ranting yang berisiko roboh.

Setelah berhasil dievakuasi, bayi surili dibawa ke tempat yang lebih aman untuk mendapatkan penanganan awal. Dodo memberikan pertolongan sementara agar kondisinya membaik sebelum mencoba mencari kembali kelompok surili di sekitar lokasi penemuan.

Bayi Surili Akhirnya Kembali ke Induknya

Pada Jumat pagi, 23 Oktober 2026, Dodo berupaya menemukan keberadaan kelompok surili yang diperkirakan masih berada di sekitar kawasan tersebut. Upaya itu membuahkan hasil ketika suara bayi surili mendapat respons dari induknya yang kemudian mendekat.

Bayi surili tersebut akhirnya kembali bersama induknya di lokasi yang berjarak sekitar 300 meter dari tempat awal ditemukan. Momen ini menjadi bagian penting dari penyelamatan karena anak satwa itu tidak hanya berhasil dijauhkan dari kebakaran, tetapi juga kembali ke induknya.

Pengembalian kepada induk merupakan langkah yang berarti bagi satwa yang masih sangat muda dan bergantung pada perawatan induknya. Namun, kondisi habitat di sekitar lokasi tetap menjadi perhatian karena kawasan tersebut mengalami kerusakan akibat kebakaran.

Surili dan Pentingnya Menjaga Hutan Gunung Ciremai

Surili Jawa (Presbytis comata) merupakan primata endemik Pulau Jawa yang hidup di kawasan hutan. Keberadaan satwa ini bergantung pada habitat yang menyediakan pepohonan, sumber makanan, serta ruang untuk bergerak dan berlindung.

Kebakaran hutan dapat menghilangkan tempat berlindung dan mengganggu ketersediaan makanan bagi satwa liar. Hewan yang bergerak lambat, anak satwa, atau individu yang terpisah dari kelompoknya dapat menghadapi risiko lebih besar ketika api menyebar.

Gunung Ciremai menjadi habitat bagi beragam satwa liar, sehingga perlindungan kawasan ini tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api. Pemantauan satwa, pemulihan vegetasi, dan pencegahan kebakaran berulang juga diperlukan untuk menjaga fungsi ekosistem.

Peran Masyarakat dalam Melindungi Satwa Liar

Aksi Dodo menunjukkan bahwa masyarakat yang terlibat dalam penjagaan hutan dapat berperan penting dalam menemukan dan membantu satwa yang terancam. Meski demikian, penyelamatan satwa di tengah kebakaran tetap berisiko dan sebaiknya dilakukan dengan koordinasi bersama petugas yang berwenang.

Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka atau terjebak api sebaiknya segera melapor kepada petugas kehutanan atau pengelola kawasan konservasi. Warga tidak dianjurkan memasuki area kebakaran atau menangkap satwa sendiri apabila kondisi tidak aman.

Kisah bayi surili yang kembali kepada induknya menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran hutan tidak hanya terlihat pada pohon yang hangus. Perlindungan habitat dan pencegahan kebakaran sangat penting agar satwa liar tetap memiliki tempat hidup dan kesempatan untuk bertahan di alam.

Sumber: detikJabar, 23 Oktober 2026.