Rupiah Melemah ke Rp18.133 per Dolar AS, Ini Penyebab dan Respons Bank Indonesia

Nihon.id — Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp18.133 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Tekanan terhadap mata uang Indonesia tersebut dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia, penguatan dolar AS, serta meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Berdasarkan laporan Bisnis.com, rupiah terkoreksi 53 poin atau sekitar 0,29% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi ketika sejumlah mata uang Asia juga bergerak di zona negatif terhadap dolar AS.

Harga Minyak dan Sentimen Global Tekan Rupiah

Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah karena meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya energi dan kebutuhan valuta asing. Sentimen pasar turut dipengaruhi antisipasi kemungkinan aksi militer Amerika Serikat dan Israel yang menambah ketidakpastian geopolitik.

Tekanan tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga sejumlah mata uang di kawasan Asia. Dalam perdagangan yang dilaporkan Bisnis.com, peso Filipina dan rupee India turut melemah terhadap dolar AS, sementara yen Jepang juga mengalami penurunan.

Penguatan dolar AS di tengah situasi tersebut membuat mata uang negara berkembang menghadapi tekanan tambahan. Investor cenderung lebih berhati-hati ketika risiko global meningkat, terutama menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat.

Bank Indonesia Terus Pantau Pergerakan Rupiah

Bank Indonesia memastikan tetap memantau pergerakan nilai tukar dan melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Pernyataan tersebut disampaikan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti kepada wartawan pada Senin, 26 Oktober 2026.

BI menyatakan strategi stabilisasi yang berjalan tidak mengalami perubahan dan pelaksanaan intervensi akan menyesuaikan kondisi pasar. Langkah tersebut bertujuan menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali di tengah perubahan permintaan dan pasokan valuta asing.

BACA JUGA :  IHSG Menguat 4,90% Sepekan, Transaksi Harian Tembus Rp20,34 Triliun

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia yang tercatat pada 27 Oktober 2026 berada di Rp18.116 per dolar AS. Angka tersebut merupakan acuan kurs tengah dan tidak sama dengan kurs penutupan pasar spot yang diberitakan sebelumnya.

Pasar Menanti Data Ekonomi Amerika Serikat

Pelaku pasar pekan ini mencermati sejumlah agenda ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed, pertumbuhan ekonomi, dan data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE). Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi arah dolar AS dan pergerakan mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Rupiah Melemah ke Rp18.133 per Dolar AS, Ini Penyebab dan Respons Bank Indonesia

Nihon.id — Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp18.133 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Tekanan terhadap mata uang Indonesia tersebut dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia, penguatan dolar AS, serta meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Berdasarkan laporan Bisnis.com, rupiah terkoreksi 53 poin atau sekitar 0,29% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi ketika sejumlah mata uang Asia juga bergerak di zona negatif terhadap dolar AS.

Harga Minyak dan Sentimen Global Tekan Rupiah

Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah karena meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya energi dan kebutuhan valuta asing. Sentimen pasar turut dipengaruhi antisipasi kemungkinan aksi militer Amerika Serikat dan Israel yang menambah ketidakpastian geopolitik.

Tekanan tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga sejumlah mata uang di kawasan Asia. Dalam perdagangan yang dilaporkan Bisnis.com, peso Filipina dan rupee India turut melemah terhadap dolar AS, sementara yen Jepang juga mengalami penurunan.

Penguatan dolar AS di tengah situasi tersebut membuat mata uang negara berkembang menghadapi tekanan tambahan. Investor cenderung lebih berhati-hati ketika risiko global meningkat, terutama menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat.

Bank Indonesia Terus Pantau Pergerakan Rupiah

Bank Indonesia memastikan tetap memantau pergerakan nilai tukar dan melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Pernyataan tersebut disampaikan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti kepada wartawan pada Senin, 26 Oktober 2026.

BI menyatakan strategi stabilisasi yang berjalan tidak mengalami perubahan dan pelaksanaan intervensi akan menyesuaikan kondisi pasar. Langkah tersebut bertujuan menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali di tengah perubahan permintaan dan pasokan valuta asing.

BACA JUGA :  Cara Cek Desil Bansos 2026 Lewat HP, Cukup Pakai NIK KTP

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia yang tercatat pada 27 Oktober 2026 berada di Rp18.116 per dolar AS. Angka tersebut merupakan acuan kurs tengah dan tidak sama dengan kurs penutupan pasar spot yang diberitakan sebelumnya.

Pasar Menanti Data Ekonomi Amerika Serikat

Pelaku pasar pekan ini mencermati sejumlah agenda ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed, pertumbuhan ekonomi, dan data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE). Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi arah dolar AS dan pergerakan mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS pada perdagangan berikutnya. Proyeksi tersebut merupakan perkiraan pasar dan bukan kepastian mengenai arah nilai tukar.

Bagi masyarakat dan pelaku usaha, perubahan kurs dapat memengaruhi biaya pembelian barang impor, pembayaran dalam dolar AS, serta kebutuhan perjalanan ke luar negeri. Meski demikian, dampak akhirnya bergantung pada kurs yang digunakan bank atau penyedia layanan dan waktu transaksi dilakukan.

Sumber:

  • bisnis.com
  • bi.go.id