Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Pembiayaan Usaha Kecil Ikut Menguat

Nihon.id — Penyaluran kredit PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencapai Rp1.063 triliun hingga September 2026, meningkat 12,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang pembiayaan produktif untuk perusahaan besar, bisnis komersial, serta usaha kecil dan menengah (UKM).

Berdasarkan laporan kinerja yang dipublikasikan pada 28 Oktober 2026, kredit produktif BCA mencapai Rp831 triliun atau tumbuh 17,2 persen secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan untuk kegiatan usaha menjadi salah satu penopang utama ekspansi kredit bank swasta terbesar di Indonesia berdasarkan nilai asetnya.

Pertumbuhan kredit berlangsung bersamaan dengan peningkatan dana pihak ketiga (DPK), yang mencapai Rp1.301 triliun pada akhir September 2026. BCA juga membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp45,2 triliun selama sembilan bulan pertama tahun ini, naik 4,2 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Kredit Korporasi Menjadi Penopang Utama

Kredit korporasi BCA mencapai Rp528,1 triliun hingga September 2026, meningkat 20,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Segmen ini menjadi bagian terbesar dalam portofolio kredit produktif perseroan.

Sementara itu, kredit komersial tumbuh 7,8 persen secara tahunan menjadi Rp154,1 triliun. Penyaluran kredit kepada UKM mencapai Rp149,2 triliun atau meningkat 15,4 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa ekspansi pembiayaan BCA tidak hanya berlangsung pada perusahaan besar. Pelaku usaha kecil dan menengah juga menjadi bagian dari penyaluran kredit, meskipun akses pembiayaan tetap bergantung pada persyaratan dan penilaian kelayakan dari bank.

BCA menyebut sejumlah kegiatan bisnis, termasuk BCA Expo 2026 dan BCA UMKM Fest 2026, ikut mendukung penyaluran pembiayaan. Program tersebut melibatkan lebih dari 1.600 pelaku usaha dan menjadi salah satu upaya perseroan untuk memperluas hubungan dengan sektor bisnis.

BACA JUGA :  MSCI Soroti Pasar Modal RI, OJK Disorot soal Ketegasan Penegakan Hukum

Dana Murah Meningkat, Laba Tumbuh 4,2 Persen

Dari sisi pendanaan, DPK BCA meningkat 8 persen secara tahunan menjadi Rp1.301 triliun. Adapun dana murah atau current account and savings account (CASA) tumbuh 10,4 persen menjadi Rp1.103 triliun.

CASA mencakup dana dalam bentuk giro dan tabungan yang umumnya memiliki biaya pendanaan lebih rendah dibandingkan deposito berjangka. Pertumbuhan dana murah dapat membantu bank mengelola biaya dana ketika persaingan penghimpunan simpanan dan penyaluran kredit meningkat.

Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Pembiayaan Usaha Kecil Ikut Menguat

Nihon.id — Penyaluran kredit PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencapai Rp1.063 triliun hingga September 2026, meningkat 12,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang pembiayaan produktif untuk perusahaan besar, bisnis komersial, serta usaha kecil dan menengah (UKM).

Berdasarkan laporan kinerja yang dipublikasikan pada 28 Oktober 2026, kredit produktif BCA mencapai Rp831 triliun atau tumbuh 17,2 persen secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan untuk kegiatan usaha menjadi salah satu penopang utama ekspansi kredit bank swasta terbesar di Indonesia berdasarkan nilai asetnya.

Pertumbuhan kredit berlangsung bersamaan dengan peningkatan dana pihak ketiga (DPK), yang mencapai Rp1.301 triliun pada akhir September 2026. BCA juga membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp45,2 triliun selama sembilan bulan pertama tahun ini, naik 4,2 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Kredit Korporasi Menjadi Penopang Utama

Kredit korporasi BCA mencapai Rp528,1 triliun hingga September 2026, meningkat 20,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Segmen ini menjadi bagian terbesar dalam portofolio kredit produktif perseroan.

Sementara itu, kredit komersial tumbuh 7,8 persen secara tahunan menjadi Rp154,1 triliun. Penyaluran kredit kepada UKM mencapai Rp149,2 triliun atau meningkat 15,4 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa ekspansi pembiayaan BCA tidak hanya berlangsung pada perusahaan besar. Pelaku usaha kecil dan menengah juga menjadi bagian dari penyaluran kredit, meskipun akses pembiayaan tetap bergantung pada persyaratan dan penilaian kelayakan dari bank.

BCA menyebut sejumlah kegiatan bisnis, termasuk BCA Expo 2026 dan BCA UMKM Fest 2026, ikut mendukung penyaluran pembiayaan. Program tersebut melibatkan lebih dari 1.600 pelaku usaha dan menjadi salah satu upaya perseroan untuk memperluas hubungan dengan sektor bisnis.

BACA JUGA :  Pemerintah Tertibkan Perantara Ayam dan Telur, Harga Mulai Menurun

Dana Murah Meningkat, Laba Tumbuh 4,2 Persen

Dari sisi pendanaan, DPK BCA meningkat 8 persen secara tahunan menjadi Rp1.301 triliun. Adapun dana murah atau current account and savings account (CASA) tumbuh 10,4 persen menjadi Rp1.103 triliun.

CASA mencakup dana dalam bentuk giro dan tabungan yang umumnya memiliki biaya pendanaan lebih rendah dibandingkan deposito berjangka. Pertumbuhan dana murah dapat membantu bank mengelola biaya dana ketika persaingan penghimpunan simpanan dan penyaluran kredit meningkat.

Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim menjelaskan bahwa margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) meningkat dari 5,3 persen pada kuartal II menjadi 5,6 persen pada kuartal III 2026. Perbaikan secara kuartalan tersebut ditopang pertumbuhan kredit produktif dan biaya dana yang relatif stabil.

Namun, NIM BCA secara tahunan masih lebih rendah dibandingkan posisi September 2025 yang mencapai 5,8 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit dan laba tidak otomatis menghilangkan tekanan terhadap margin bunga bank.

Pembiayaan Usaha Tetap Memerlukan Prinsip Kehati-hatian

Ekspansi kredit perlu diimbangi pengelolaan risiko agar pertumbuhan tidak berujung pada peningkatan kredit bermasalah. BCA mencatat rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) sebesar 1,8 persen per September 2026, sedangkan rasio loan at risk (LAR) berada di level 4,6 persen.

Kedua indikator tersebut memberikan gambaran mengenai kualitas portofolio pembiayaan bank. Meski demikian, kondisi kredit dapat berubah mengikuti kemampuan debitur membayar pinjaman, perkembangan ekonomi, dan situasi usaha pada masing-masing sektor.

Bagi pelaku UKM, pertumbuhan kredit dapat membuka peluang memperoleh tambahan modal untuk mengembangkan usaha, membeli peralatan, atau memenuhi kebutuhan operasional. Namun, pengajuan pinjaman tetap perlu disesuaikan dengan arus kas dan kemampuan pembayaran agar kewajiban cicilan tidak mengganggu keberlangsungan bisnis.

BACA JUGA :  IHSG Anjlok 1,23% ke Level 5.201, Rupiah Melemah dan Investor Cermati The Fed

BCA juga memiliki program Kredit Multiguna Usaha Hari UMKM 2026 yang menawarkan suku bunga mulai dari 5,81 persen efektif per tahun, berdasarkan keterangan resmi perusahaan. Program tersebut dijadwalkan berlaku hingga Januari 2027, dengan ketentuan dan persyaratan yang perlu diperiksa langsung melalui kanal resmi BCA.

Apa Artinya bagi Perekonomian?

Pertumbuhan kredit produktif dapat membantu mendukung aktivitas perusahaan dan pelaku usaha ketika dana digunakan untuk kegiatan ekonomi yang menghasilkan pendapatan. Namun, besarnya penyaluran kredit saja belum cukup untuk memastikan dampaknya terhadap ekonomi, karena hasil akhirnya juga dipengaruhi produktivitas usaha dan kemampuan membayar pinjaman.

Kinerja BCA hingga September 2026 memperlihatkan ekspansi pembiayaan yang masih berjalan, dengan dukungan pertumbuhan dana murah dan laba bersih. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada kemampuan bank menjaga kualitas kredit, mengelola biaya pendanaan, dan mempertahankan permintaan pembiayaan di tengah dinamika ekonomi.

Sumber:

  • bca.co.id
  • keuangan.kontan.co.id